← HoraYaba
Di Zaman AI, Jadi Orang 'Baik' Lebih Laku Dibanding yang Cuma Pintar
entertainment·5h

Di Zaman AI, Jadi Orang 'Baik' Lebih Laku Dibanding yang Cuma Pintar

Zaman sekarang, jadi orang yang 'bisa kerja tapi nyebelin' katanya bakal makin tersingkir sama AI. Serius nih? 🤖

Jadi Orang Asyik Ternyata Skill Penting

Sebuah artikel dari Jepang baru-baru ini ngebahas kalau di era AI, skill yang paling berharga justru kemampuan untuk bikin orang lain mau kerja bareng kita. Awalnya aku juga mikir, "Hah, masa sih?" Tapi coba deh pikirin.

Nantinya, AI bakal bikin kemampuan teknis banyak orang jadi setara. Misal kamu sama temanmu sama-sama bisa bikin laporan bagus atau desain keren berkat bantuan AI. Terus, kalau harus milih kerja bareng salah satunya, kamu bakal milih yang mana? Yang asyik diajak ngobrol dan suportif, atau yang skill-nya sama tapi tiap ngomong bikin sakit hati?

Pasti milih yang asyik, kan. Kita kan manusia, bukan robot. Punya perasaan. Jadi, kemampuan bergaul dan disukai orang lain itu jadi nilai tambah yang luar biasa.

Selamat Tinggal, 'Si Jenius yang Menyebalkan'

Ada pengusaha Jepang, Kensuu, yang bilang kalau gara-gara AI, "nilai orang yang sifatnya baik jadi naik." Sebaliknya, orang yang "jago kerja tapi sifatnya jelek" bakal cepat menghilang.

Masuk akal banget. Dulu kita mungkin terpaksa sabar-sabarin kerja sama senpai atau rekan kerja yang super jago tapi kelakuannya minus. Alasannya? "Cuma dia yang bisa ngerjain ini." Kita butuh skill-nya.

Sekarang, kalau tugas super sulit itu bisa dikerjain AI atau AI bisa bantu siapa saja untuk mengerjakannya, perusahaan ngapain lagi pertahanin orang yang nyebelin? Nggak ada lagi alasan buat mentolerir drama.

Makin Terpecah, Makin Butuh 'Lem Perekat'

Alasan kedua kenapa skill sosial ini penting adalah karena masyarakat kita makin terpecah-belah. Bukan cuma di dunia maya, tapi di dunia nyata juga.

Di tempat kerja, pembagian tugas makin spesifik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bahkan nggak saling sapa sama tetangga di apato. Beda banget sama zaman kita kecil dulu, kan? Rasanya jarak antar manusia makin jauh.

Di sinilah orang yang bisa jadi 'jembatan' atau 'lem perekat' antar kelompok jadi sangat berharga. Mereka yang bisa menyatukan tim yang isinya orang-orang beda, atau sekadar bikin suasana jadi cair.

Gara-gara Internet, Kita Jadi Sumbu Pendek?

Kenapa kita bisa jadi terpecah begini? Salah satu biang keladinya adalah internet, lewat fenomena yang namanya "Filter Bubble" dan "Echo Chamber."

Filter Bubble itu saat algoritma cuma nunjukkin hal-hal yang kamu suka. Kamu suka Indomie Soto, ya nanti isinya pujian soal Indomie Soto melulu. Akhirnya kamu kejebak di gelembung informasimu sendiri. 🫧

Lalu ada Echo Chamber. Kamu masuk ke grup yang isinya sama-sama penyuka Indomie Soto. Kamu posting "Soto terbaik!" dan semua orang setuju. Kamu jadi merasa opinimu adalah kebenaran mutlak yang diyakini semua orang.

Ini terjadi di semua hal, dari makanan, politik, sampai hal sepele lainnya. Ujung-ujungnya, kita jadi gampang menganggap orang yang beda pendapat itu aneh atau salah. Makanya, penting banget buat sesekali sengaja cari pandangan yang berlawanan, biar wawasan kita tetap seimbang.

LINEFacebook
Komentar

Katakan sesuatu — anonim, tanpa daftar 👇

Masuk untuk menyimpan nama & data