Gaji Kita di Jepang 'Disunat' Lagi, Yen Tembus 161
Dolar AS sekarang seharga 161 yen, level terlemah sejak orang tua kita mungkin baru pacaran.
Apa yang terjadi?
Tadi malam di New York, yen sempat anjlok ke level 161,93 terhadap dolar AS. Ini angka terendah yang pernah kita lihat di tahun 2024, dan juga yang terlemah dalam hampir 40 tahun.
Desember 1986. Itu terakhir kalinya yen selemah ini. Aku bahkan belum lahir waktu itu.
Rasanya baru kemarin kita kaget lihat angka 150, sekarang udah kepala 160-an. Coba deh cek sisa saldo atau uang yang kamu kirim ke Indo bulan lalu, terus bandingkan kursnya sama hari ini. Nyesek, kan?
Kenapa bisa begini, sih?
Semua mata lagi tertuju ke Amerika. Ada prediksi bank sentral AS (The Fed) bakal naikin suku bunga lagi tahun ini. Kenapa? Karena harga minyak dunia naik, dan mereka khawatir inflasi di sana bakal panas lagi.
Ketika suku bunga AS naik, dolar jadi lebih "seksi" buat para investor. Akibatnya, mereka ramai-ramai jual yen buat beli dolar. Jadilah nilai yen makin merosot.
Sebenarnya, Menteri Keuangan Jepang, Katayama Satsuki, semalam udah ngobrol sama rekannya dari AS. Ini bikin pasar sedikit berharap pemerintah Jepang bakal intervensi—alias ngeborong yen buat nguatin nilainya. Tapi...
Terus, bakal gimana ke depannya?
Banyak pengamat pasar yang agak skeptis. Soalnya, yang beli dolar itu bukan cuma Jepang, tapi seluruh dunia. Jadi kalaupun pemerintah intervensi, efeknya mungkin cuma sementara. Kayak nambal ban bocor pakai plester luka.
Ini artinya buat kita yang gajian pakai yen, nilai uang kita makin tergerus. Kiriman ke keluarga di Indonesia jadi terasa lebih sedikit. Uang tabungan yang niatnya mau dibawa pulang nilainya juga turun kalau dikonversi.
Sekarang semua trader lagi nahan napas, nontonin angkanya terus mendekati rekor tahun 1986 itu. Kita juga.
