Hotel di Sapporo Ini Cuma Minta Satu Hal: Tolong Lupakan Kami
Tiga tahun setelah kasus pembunuhan tanpa kepala, hotel ini rugi terus dan cuma mau dilupakan.
Kejadian Apa Sih Ini?
Ceritanya dimulai tiga tahun lalu di Sapporo, pas hari Minggu sore. Manajer operasional sebuah hotel lagi santai di Hakodate, tiba-tiba dapat telepon dari manajer cabangnya di Susukino. Katanya, 'Ada orang pingsan di hotel. Kayaknya sudah meninggal.'
Staf part-time yang pertama kali nemuin bilang ruangannya bersih banget. Nggak ada darah, nggak ada yang berantakan, bahkan kasur dan amenities belum dipakai. Awalnya dia kira yang tergeletak di bak mandi itu perempuan. Dia coba tepuk-tepuk badannya, tapi nggak ada respons sama sekali.
Manajer operasional itu langsung ngebut ke Sapporo. Tapi pas sampai, hotelnya sudah dikelilingi garis polisi. Dia nggak bisa masuk. Di tengah suasana tegang, dia nggak sengaja dengar obrolan polisi dan petugas medis: 'Kepalanya nggak ada.' Sampai sekarang, kata-kata itu masih terngiang di kepalanya.
Efeknya Nggak Main-Main
Udah tiga tahun berlalu, tapi kondisi hotelnya masih parah banget. Penjualan dan jumlah tamu masih kurang dari setengahnya dibanding sebelum kejadian. Rugi terus-terusan. Padahal, waktu itu mereka baru aja mau bangkit setelah dihantam pandemi. Sedih banget kan. ๐ฅ
Manajemen udah coba segala cara. Kamar tempat kejadian dibersihkan khusus, bahkan sampai panggil pendeta Shinto buat ritual penyucian (_oharai_). Sekitar tiga minggu kemudian, hotelnya buka lagi, walaupun lantai dua tempat kamar itu ditutup. Tapi ya... hasilnya nihil.
Kata manajernya, "Ya gimana ya, kejadian kayak gini, mana mungkin ada tamu yang mau datang." Logis juga sih.
Masalahnya Bukan Cuma Soal Mistis
Bukan cuma sepi tamu, masalah terbesarnya justru datang dari staf. Staf yang pertama kali nemuin mayat itu, plus dua orang lainnya, akhirnya _resign_. Hotel yang tadinya buka setiap hari terpaksa harus tutup dua hari seminggu selama setengah tahun.
Sampai sekarang, kalau buka lowongan kerja, hampir nggak ada yang daftar. Susah banget cari pegawai baru. Lucunya, manajernya bilang dia nggak dendam sama sekali sama keluarga pelaku. Dia cuma pengin sidangnya cepat selesai dan semua orang melupakan kasus ini.
"Ini kan bukan salah hotelnya. Kami cuma apes aja kepilih," katanya. Dia cuma khawatir kalau berita yang salah malah menyebar, makanya dia mau cerita versi benarnya. Sementara itu, sidang untuk pelaku utamanya bahkan belum ada jadwalnya. Perjalanan hotel ini kayaknya masih panjang ya. ๐จ
