Kerja di Jepang: Ternyata Bertanya Itu Tanda Jago, Bukan Bodoh
Setelah bertahun-tahun kerja di Jepang, aku baru sadar kalau caraku selama ini salah total.
Definisi 'Orang Jago' Berubah Total
Setelah sekian lama kerja di bidang yang sama, aku punya definisi sendiri soal "orang yang jago kerja". Menurutku, mereka adalah orang yang punya keahlian teknis super dewa, yang bisa lihat data sekilas dan langsung tahu masalahnya di mana. Aku selalu kagum dan berusaha jadi seperti mereka.
Tapi semua itu berubah waktu aku pindah ke departemen baru. Aku lihat ada satu orang yang jadi andalan semua orang. Padahal, pengetahuannya biasa saja. Awalnya aku bingung, kenapa dia bisa begitu diandalkan ya?
Setelah kuperhatikan, ternyata rahasianya simpel: dia nggak pernah takut buat bertanya. "Boleh konfirmasi dikit?", "Ini gimana ya kemarin?", "Aku mau tanya untuk mastiin aja." Pertanyaan-pertanyaan yang menurutku sepele, ternyata itulah yang bikin kerjaan maju terus.
Kejuaraan Buka-Tutup Aplikasi Chat
Dulu, aku anti banget bertanya. Aku merasa kalau aku bertanya, apalagi sebagai orang yang sudah lama kerja, aku bakal dianggap nggak kompeten. Malu dong.
Jadilah aku sering begini: Buka aplikasi chat. Ketik, "Permisi, mau tanya soal..." Terus kuhapus lagi. Ketik lagi. Hapus lagi. Kayaknya kalau ada lomba buka-tutup aplikasi chat, aku bisa jadi juara satu. 🤦
Ujung-ujungnya, aku pusing sendirian selama satu jam, baru berani bertanya. Jawabannya? "Oh, itu lihat dokumen ini aja." Selesai dalam 30 detik. Satu jamku yang berharga hilang ke mana coba. Aku kira bertanya itu tanda kekalahan, padahal bagi mereka yang jago, "tidak bertanya itulah kekalahan".
Insiden 'Bahasa Inggrisnya Aneh Banget!'
Suatu hari, bosku yang lagi dinas di belahan dunia lain tiba-tiba nge-chat. Dia minta tolong terjemahkan dokumen Bahasa Inggris secepatnya. Tentu saja aku langsung sigap, kapan lagi bisa bantu bos.
Tapi waktu kubuka dokumennya, aku langsung bengong. Ini Bahasa Inggris model apa? Anehnya kebangetan. Aku coba masukkan ke AI translator, berharap pada keajaiban teknologi. Hasilnya? Bahasa Indonesianya jadi sama anehnya.
Setelah pusing sendiri, akhirnya aku menyerah dengan perasaan malu. "Bos, maaf, ini aku nggak ngerti..." Di luar dugaan, responsnya malah bikin lega. Rekan-rekan lain yang dengar langsung nimbrung, "Ooh, dokumen dari dia ya?", "Iya, Inggrisnya emang terkenal aneh kok.", "AI juga nyerah ternyata." Lho, kenapa nggak ada yang bilang dari awal?
Ternyata, dokumen itu memang butuh ahli bahasa dan butuh waktu lebih dari 5 jam untuk dipecahkan. Kalau saja aku gengsi dan pura-pura bisa, mungkin kerjaan itu bakal mangkrak berhari-hari di tanganku. Mengakui "aku tidak tahu" bukanlah melempar tanggung jawab. Itu justru cara kita menghargai waktu semua orang di perusahaan. Sebuah pelajaran yang sangat simpel, tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar kupahami.
