← HoraYaba
Pria di Osaka Jadi 'Apoteker' Gratisan, Bagikan 20.000 Pil Resep
entertainment·12d

Pria di Osaka Jadi 'Apoteker' Gratisan, Bagikan 20.000 Pil Resep

Di Osaka, seorang pria pengangguran dijuluki 'apoteker' karena membagikan 20.000 pil resep gratis ke anak-anak muda.

Jadi, ceritanya gimana?

Di area dekat papan iklan Glico di Dotonbori, Osaka—yang dijuluki 'Guri-shita'—ada seorang pria berumur 40 tahun yang dikenal sebagai 'Kusuri-ya san' alias 'Pak Apoteker'. Ternyata, dia bukan apoteker sungguhan.

Pria ini ditangkap polisi pada bulan Mei lalu karena memberikan obat tidur dan obat resep lainnya secara ilegal kepada remaja. Kasusnya terungkap setelah dua siswi SMP dan SMA ditemukan pingsan di dalam kereta karena overdosis setelah menerima 60 pil darinya.

Saat diinterogasi, pembelaannya sungguh di luar nalar. Katanya, dia hanya ingin membantu anak-anak muda yang punya masalah hidup atau kecanduan obat. Dia bilang semua itu dilakukannya atas dasar 'jiwa sukarelawan'. 🤦

Kok bisa dapat obat sebanyak itu?

Nah, di sinilah letak celahnya. Pria ini adalah penerima tunjangan sosial dari pemerintah Jepang (生活保護, seikatsu hogo). Salah satu fasilitas dari program ini adalah biaya pengobatan ditanggung sepenuhnya oleh negara, alias gratis.

Tujuannya mulia, yaitu agar orang yang kesulitan ekonomi tidak ragu untuk berobat. Tapi sistem ini dia manfaatkan habis-habisan. Sejak Februari 2024, dia berhasil mendapatkan sekitar 20.000 butir pil—termasuk obat tidur dan psikotropika—hanya dari satu klinik tanpa membayar sepeser pun.

Emang nggak ada yang ngecek?

Sebenarnya pemerintah sudah berusaha memperketat pengawasan. Mereka memeriksa resep (レセプト, reseputo) untuk mendeteksi jika ada yang menerima obat sejenis dari beberapa rumah sakit sekaligus. Tapi ternyata sistem ini masih punya kelemahan.

Menurut seorang kepala klinik di Tokyo, ada beberapa kemungkinan. Bisa jadi pasiennya yang memaksa, misalnya dengan mengancam akan memberi rating jelek secara online. Atau, klinik yang sedang kesulitan keuangan sengaja melayani pasien yang meminta obat dalam jumlah banyak untuk menaikkan pendapatan.

Masalah lainnya, data resep butuh waktu untuk masuk ke sistem pusat. Solusi seperti 'resep elektronik' (電子処方箋, denshi shohosen) yang bisa mengecek riwayat resep secara real-time sebenarnya ada, tapi belum banyak klinik yang menggunakannya.

Jadi ya begitu, sistem ada tapi celahnya juga ada.

LINEFacebook
Komentar

Katakan sesuatu — anonim, tanpa daftar 👇

Masuk untuk menyimpan nama & data