Harga Cokelat Naik 25%, Inflasi Jepang Katanya 'Stabil'
Harga cokelat di Jepang melonjak 25,8%, tapi pemerintah bilang inflasi aman terkendali.
Ada apa sih?
Angka resmi dari pemerintah nunjukkin inflasi bulan Mei cuma 1,4%. Katanya sih 'stabil' dan masih di bawah target Bank of Japan sebesar 2%.
Tapi coba deh ke supermarket atau konbini. Harga biji kopi naik 37,9%. Cokelat naik 25,8%. Bahkan bento buat makan siang kita naik 11,4% dibanding tahun lalu.
Kok bisa beda jauh gitu ya? Ternyata, angka inflasi resmi itu nggak memasukkan harga makanan segar yang harganya naik-turun. Jadi, yang kita rasain di kasir itu cerita yang berbeda.
Kenapa bisa begini?
Angka inflasi yang 'rendah' itu sebagian besar karena subsidi dari pemerintah. Harga bensin jadi lebih murah, biaya pendidikan juga ditekan lewat program pemerintah.
Ini yang bikin laporan di atas kertas kelihatan bagus. Tapi ini nggak menutupi kenaikan harga lainnya.
Produsen makanan sekarang menghadapi biaya kemasan yang lebih tinggi, imbas dari situasi di Timur Tengah. Dan biaya ekstra itu? Ya, dibebankan ke kita semua sebagai konsumen. Jadi, subsidi di satu sisi, tapi harga naik di sisi lain.
Jadi, gimana dong?
Rasanya aneh ya. Pemerintah bilang ekonomi stabil, tapi dompet rasanya makin tipis tiap kali beli makan siang. Aku sendiri juga ngerasain, harga onigiri favorit atau minuman kaleng pelan-pelan naik.
Laporan resmi bilang inflasi terkendali. Tapi angka itu nggak mengukur harga makan siang kita yang makin mahal.
Apa yang mereka ukur itu rasanya beda sama yang kita jalani sehari-hari.
