Sering Dianggap 'Omdo'? Mungkin Ini Penyebabnya
Pernah nggak sih, udah mikir berjam-jam, tapi pas ngomong malah dibilang 'omongannya cetek'?
Kok Bisa Gitu Sih?
Ada lho orang yang kelihatannya serius dan rajin belajar, tapi setiap kali selesai ngobrol, nggak ada satu pun omongannya yang nyantol di kepala kita. Menurut Takanori Kataishi, CEO yutori Inc., kesalahan terbesarnya adalah: setelah mikir panjang, kita malah sampai pada kesimpulan yang terlalu 'rapi' dan umum.
Orang yang serius cenderung menetapkan tujuan berpikirnya untuk "menemukan jawaban benar yang bisa dijelaskan ke orang lain". Jadinya, pemikirannya lari ke hal-hal yang gampang dimengerti, dan mendarat di kalimat-kalimat yang sering kita dengar di kantor Jepang. Misalnya, "Intinya ini soal `kosupa` (cost performance) ya," atau "Kayaknya tim ini kurang `shinriteki anzen-sei` (psychological safety) deh." 😑
Meskipun kamu mikir sejam atau tiga hari, kalau 'pintu keluarnya' adalah kata-kata pinjaman, jalan yang kamu lewati nggak akan pernah jadi milikmu. Bedanya bukan di lama waktu berpikir, tapi di 'arah' berpikirnya.
Nambah Kosakata Nggak Guna
Jadi harus gimana dong? Banyak yang langsung mikir, "Wah, harus nambah `goi` (kosakata) nih." Ternyata salah. Kataishi bilang, menambah kosakata itu ibarat nambahin jenis tongkat pemukul bisbol. Punya banyak tongkat nggak otomatis bikin kamu jago main bisbol.
Pemain yang jago itu bukan nambahin tongkat, tapi fokus ngelihatin bolanya. Artinya, yang perlu kita lihat itu bukan kata-kata di luar sana, tapi detail-detail kecil di dalam hati kita sendiri. Kata-kata pinjaman itu mulus banget, nggak ada teksturnya, makanya nggak ada yang bisa nyangkut di hati orang lain.
Coba Tanya "Kenapa" Lima Kali
Kataishi menyarankan metode "analisis kenapa-kenapa" yang terkenal dari Toyota. Jadi, setiap kali kamu merasakan sesuatu, jangan berhenti di situ. Tanya dirimu sendiri "kenapa?" sampai lima kali.
Contoh: Kamu lihat presentasi teman dan mikir, "Wah, `sugoi`!" Jangan berhenti.
1. Kenapa `sugoi`? Karena strukturnya bagus.
2. Apanya yang bagus? Cara dia tiba-tiba pindah dari data penjualan ke cerita soal temannya.
3. Kenapa itu keren? Rasanya pesannya jadi lebih 'telanjang' dan jujur.
4. Kenapa aku suka yang jujur? …
5. Kenapa? …
Lama-lama, kamu akan sampai di satu titik di mana kamu nggak bisa lagi menjelaskannya dengan logika. "Nggak tahu kenapa, tapi aku merasa ini penting." atau "Nggak ada alasannya, tapi momen ini bikin aku mau nangis." Nah, inilah wilayah kata-katamu yang asli.
Orang yang omongannya 'cetek' nggak pernah sampai ke titik ini. Mereka keburu nemu jawaban 'rapi' di tengah jalan dan putar balik. Padahal, berpikir itu bukan soal mencari jawaban, tapi soal membentuk dirimu sendiri.

Masuk untuk menyimpan nama & data