Pemerintah Jepang Mau Bagi Duit, Tapi Kok Kita Nggak Dapet?
Pemerintah Jepang katanya mau bagi-bagi duit, tapi kok kayaknya kita yang kerja banting tulang malah nggak kebagian ya? ๐ซ
Katanya mau bantu, kok jadinya begini?
Awalnya ada kabar bagus, katanya pemerintah mau bikin skema baru biar potongan pajak lebih ringan dan gaji bersih kita para pekerja jadi lebih gede. Wah, seneng dong dengernya.
Eh, tapi tunggu dulu. Setelah digodok sana-sini, rencananya malah berubah total. Skema yang tadinya buat nambahin gaji bersih kita semua, sekarang malah jadi kayak "bantuan langsung tunai" yang cuma buat orang-orang dengan penghasilan super rendah.
Bocorannya, yang dapet bantuan ini cuma mereka yang penghasilan tahunannya di bawah 2,5 juta yen. Kalau dihitung-hitung, itu sekitar 200,000 yen sebulan. Jadi, buat kita yang gajinya di atas itu, ya siap-siap gigit jari aja. Nggak ada potongan pajak, nggak ada tambahan apa-apa.
Logika 'Makin Rajin, Makin Buntung'
Yang bikin makin jengkel itu logikanya. Sistemnya dibuat supaya makin naik penghasilan, makin dikit bantuannya. Kedengarannya adil, tapi di lapangan bisa jadi runyam.
Bayangin skenario ini: temen kamu yang gajinya pas-pasan dapet bantuan penuh dari pemerintah. Kamu, karena rajin lembur biar dapet tambahan dikit, penghasilanmu jadi sedikit di atas batas. Hasilnya? Bantuanmu dipotong atau bahkan hilang sama sekali. Tangan kanan kerja rodi, tangan kiri nombokin pajak.
Jadinya malah muncul rasa nggak adil. Bukannya semangat kerja, malah jadi mikir, "Ngapain capek-capek kerja keras kalau malah jadi rugi?" Ini yang di Jepang disebut "ๅใๆ" (hataraki-zon), rugi karena bekerja. Coba tag temen kamu yang suka ngeluh soal ini. ๐
Akhirnya, semua jadi mode 'survival'
Kalau udah begini, banyak orang jadi apatis. Ngerasa percuma ngarepin pemerintah, mending urus diri sendiri aja. Inilah yang lagi rame sekarang: semua orang tiba-tiba ngomongin NISA, investasi, dan cari kerjaan sampingan (fukugyo).
Ini semacam "silent protest". Daripada demo di jalan, orang-orang lebih milih "keluar" dari sistem dan fokus menyelamatkan keuangan pribadi. Masalahnya, nggak semua orang punya modal atau energi buat ikutan NISA atau cari fukugyo setelah seharian kerja di pabrik atau restoran.
Ujung-ujungnya, masyarakat malah terpecah belah. Ada kubu "survivor" yang berhasil dengan investasi dan kerja sampingan, dan ada kubu "tertinggal" yang cuma bisa pasrah. Yang lebih parah, yang berhasil malah jadi nyalahin yang tertinggal, "Kenapa aku yang udah kerja keras harus bayar pajak buat bantu mereka yang nggak mau usaha?"
Padahal, kan, masalahnya di sistemnya yang aneh dari awal.

Masuk untuk menyimpan nama & data