← HoraYaba
Standar Jodoh di Jepang: Bukan Matre, tapi Takut Salah Pilih?
entertainment·2h

Standar Jodoh di Jepang: Bukan Matre, tapi Takut Salah Pilih?

Pernah dengar kriteria cari jodoh di Jepang? Gaji minimal 8 juta yen setahun, tinggi di atas 175cm, bukan anak pertama... kok ribet banget ya? 🧐

Standar Setinggi Langit

Di Jepang, layanan cari jodoh alias 婚活 (konkatsu) itu serius banget. Saking seriusnya, para cewek ini kadang datang ke konsultan jodoh dengan daftar permintaan yang panjangnya kayak struk belanja bulanan. Isinya? Macam-macam.

Selain gaji dan tinggi badan, ada juga yang minta lulusan universitas ternama, bukan anak sulung (katanya biar nggak nanggung beban keluarga), bukan wiraswasta, dan bahkan ada yang anti sama golongan darah B atau AB. Kalau dilihat sekilas, kesannya kayak matre dan maunya yang sempurna aja. Tapi tunggu dulu, ternyata ada alasan lain yang lebih dalam.

Sebenarnya Cuma Takut?

Menurut sebuah manga populer, fenomena ini bukan soal serakah, tapi soal rasa cemas. Bayangin deh, di aplikasi kencan modern, ada puluhan ribu pilihan. Saking banyaknya, malah jadi bingung harus mulai dari mana dan takut banget kalau sampai salah pilih.

Akhirnya, untuk menghindari kegagalan, mereka berpegang pada "standar" yang kelihatan jelas. Tinggi badan jadi simbol "bisa diandalkan". Golongan darah jadi jalan pintas buat nebak kepribadian, padahal nggak ada bukti ilmiahnya. Gaji besar juga bukan buat foya-foya, tapi karena mereka nggak yakin standar hidup "cukup" itu seberapa.

Jadinya, makin serius seseorang mencari pasangan, makin cemas pula dia. Saking cemasnya, mereka nambahin banyak syarat biar "aman", padahal justru itu yang bikin mereka makin jauh dari pasangan potensial. Ironis ya.

Mirip Kayak Milih Tontonan

Sebenarnya ini relate banget sama kehidupan kita sehari-hari. Kayak pas mau nonton film, tapi lihat rating atau review-nya jelek. Langsung ragu kan mau nonton atau nggak? Kita jadi lebih percaya sama "penilaian orang" daripada mencoba sendiri.

Kata si pengarang manga, kita semua tanpa sadar bergantung pada "penunjuk yang kelihatannya benar" di banyak hal, nggak cuma soal jodoh. Ini adalah cara kita lari dari rasa cemas yang muncul karena punya terlalu banyak kebebasan dan pilihan.

Jadi kalau lain kali kamu ketemu orang yang daftar kriteria pasangannya panjang banget, mungkin dia bukan sombong. Mungkin dia cuma lagi kewalahan aja sama pilihan yang ada.

LINEFacebook
Komentar

Katakan sesuatu — anonim, tanpa daftar 👇