Kata Filsuf, Kunci Bahagia di Jepang Itu Ternyata Bukan Jadi Orang Kaya
Ternyata, kalau hari ini kamu nggak sengsara, menurut filsuf kamu udah termasuk orang paling bahagia.
Standar Bahagia Kamu Mungkin Ketinggian
Kita semua sama. Merantau ke Jepang, banting tulang, berharap kalau gaji naik, dapat promosi, atau pindah ke apartemen yang lebih gede dikit, hidup bakal lebih bahagia. Tapi kok rasanya capek terus, ya? Selalu ada aja yang kurang.
Nah, ada seorang filsuf Jerman, namanya Schopenhauer, yang punya pandangan beda. Menurut dia, standar kebahagiaan itu bukan dari seberapa banyak hal keren yang kamu punyaโsukses, kaya, jabatan. Standarnya justru sebaliknya: seberapa sedikit penderitaan mental dan fisik yang kamu rasain.
Jadi, kalau hari ini kamu nggak perlu lembur sampai kereta terakhir, nggak dimarahin atasan tanpa alasan jelas, dan saldo Suica masih cukup buat pulang... selamat, kata Schopenhauer kamu lagi di puncak kebahagiaan. ๐
Mending Hindari Satu Sial Daripada Ngejar Sepuluh Keberuntungan
Logikanya begini: Mengejar kesenangan itu nggak ada habisnya. Dapat bonus, senangnya cuma sebentar, terus pengen yang lebih besar lagi. Pindah ke apartemen 2DK, eh, lama-lama pengen yang ada tamannya. Bikin capek, kan?
Schopenhauer bilang, daripada sibuk ngejar sepuluh hal yang bikin senang, mending fokus menghindari satu hal yang bikin sengsara. Idenya ini disebut "teori kebahagiaan negatif". Tujuannya bukan buat nambah-nambahin yang enak, tapi buat ngurang-ngurangin yang bikin hidup susah.
Misalnya, daripada pusing mikirin cara beli mobil di negara yang sistem keretanya udah bagus banget, mending fokus gimana caranya biar tetangga sebelah berhenti latihan main biola jam 11 malam. Satu masalah kecil hilang, hidup langsung terasa lebih damai.
Jadi, Mulai dari Mana Nih?
Nggak usah muluk-muluk. Nggak perlu langsung resign terus pindah ke desa di Hokkaido. Coba mulai dari hal kecil.
Pikirin satu hal yang paling sering bikin kamu capek batin minggu ini. Mungkin harus ikut nomikai yang isinya cuma dengerin cerita lucu versi buchou? Atau pusing misahin sampah plastik sama sampah botol?
Coba deh, minggu ini aja, cari satu cara buat menghindari satu penderitaan kecil itu. Mungkin berani bilang, "Maaf, hari ini saya ada janji," pas diajak nomikai. Atau akhirnya nempel poster cara buang sampah di dinding biar nggak pusing lagi.
Siapa tahu, bahagia itu sesimpel nggak perlu dengar lelucon garing atasan lagi. โจ
