Nikah di Jepang? Tunggu Dulu, Harga Sembako Lagi Meroket
Ternyata tembok terbesar buat nikah di Jepang sekarang bukan restu orang tua, tapi harga barang yang naik terus.
Ada Apa Nih Sebenarnya?
Baru-baru ini ada survei di Jepang ke 611 jomblo usia 25-34 tahun. Hasilnya? Cuma di bawah 50% yang kepikiran mau nikah. Sisanya kayaknya lagi sibuk ngitung pengeluaran bulanan deh.
Yang bikin pusing kepala bukan lagi nyari jodoh yang cocok, tapi gimana caranya bertahan hidup kalau harga semua barang naik gila-gilaan. Dari biaya sewa apato, tagihan listrik, sampai harga telur di konbini, semuanya jadi pertimbangan.
Kriteria Pasangan Idaman Zaman Now
Survei ini juga nanya soal kriteria pasangan. Lucu juga bedanya jawaban cewek sama cowok.
Cowok-cowok Jepang ngarepnya dapet pasangan yang "nggak boros" dan "nggak hobi beli barang branded". Intinya, dompet harus aman sentosa.
Sementara itu, para cewek lebih realistis. Syarat utama buat calon suami: "nggak main judi", "nggak punya utang", dan yang paling penting, "gaji stabil". Bukan matre, tapi realistis. Siapa juga yang mau nikah sama orang yang bakal ngerusak keuangan keluarga, kan?
Uangmu, Uangku, atau Uang Kita?
Hampir 80% responden setuju kalau setelah nikah, dua-duanya harus tetap kerja. Zaman di mana istri di rumah aja kayaknya udah lewat.
Soal ngatur duit, gaya favorit mereka sekarang itu "sebagian digabung". Maksudnya, bikin satu rekening bersama buat bayar sewa, tagihan, dan belanja bulanan. Sisa gaji? Ya itu urusan masing-masing, bebas mau dipakai buat hobi atau ditabung.
Ini nunjukkin kalau anak muda sekarang pengen punya tanggung jawab bareng sebagai keluarga, tapi juga tetap punya kebebasan finansial sendiri. Adil, kan?
Pada akhirnya, ketakutan terbesar mereka buat masa depan keluarga bukanlah biaya membesarkan anak atau beli rumah. Juaranya adalah... "gimana caranya ngimbangin kenaikan harga barang" ๐ญ. Kayaknya romansa pun harus takluk sama struk belanjaan bulanan.
