Survei Jepang: Siapa yang Mau Nambah Jam Kerja?
Cuma sedikit orang di Jepang yang mau nambah jam kerja, dan ternyata cewek-cewek paling jago wujudinnya.
Siapa Sih yang Mau Nambah Jam Kerja?
Universitas Tokyo baru aja ngeluarin hasil survei soal jam kerja. Hasilnya sih nggak kaget-kaget amat.
Mayoritas orang pengen jam kerjanya tetap atau malah dikurangin. Ya iyalah, siapa yang nggak mau pulang cepet? ๐
Tapi ada sekelompok kecil yang unik: 3% cowok dan 6% cewek bilang mereka pengen kerja LEBIH LAMA. Tunggu, apa? Di negara yang terkenal sama `karoshi` (mati karena kebanyakan kerja) ini?
Ternyata... Ini Soal Dapur, Bro
Usut punya usut, yang mau nambah jam kerja ini bukan para `seishain` (pegawai tetap) yang udah pusing sama lembur. Cuma 1-2% dari mereka yang mau.
Jagoannya adalah para pekerja non-reguler, kayak yang `arubaito` atau `haken`. Sekitar 12-13% dari mereka pengen jam kerjanya ditambah.
Alasannya simpel banget: butuh duit. Surveinya nunjukkin makin rendah pendapatan seseorang, makin besar keinginannya buat nambah jam kerja. Ini bukan soal cinta mati sama kerjaan, tapi soal gimana caranya bayar `yachin` (sewa apartemen) sama tagihan bulan depan. Relate, kan?
Cewek-cewek Lebih Gercep Wujudinnnya
Nah, bagian paling menariknya di sini. Survei ini ngikutin orang-orang yang dua tahun lalu bilang pengen kerja lebih lama.
Dan hasilnya? Cewek-cewek juaranya! Sebanyak 63% dari cewek yang pengen nambah jam kerja beneran berhasil nambahin jam kerjanya. Bandingin sama cowok yang cuma 25.8%.
Nambahnya juga nggak main-main. Rata-rata cewek nambah 19,4 jam sebulan! Itu hampir 5 jam ekstra tiap minggu. Sementara cowok cuma nambah sekitar 5,1 jam.
Salah satu alasan terbesarnya adalah banyak dari cewek-cewek ini berhasil pindah status dari pekerja non-reguler jadi `seishain`. Sebuah glow up karir yang diimpikan banyak orang di sini.
