โ† HoraYaba
Malu Baca Buku Self-Help? Justru Itu Keren
entertainmentยท1h

Malu Baca Buku Self-Help? Justru Itu Keren

Lagi asyik baca buku motivasi di kereta, eh malah takut di-judge "sok ambisius".

Jujur, Suka Gengsi Nggak Sih?

Pernah nggak sih, kamu jalan-jalan ke Kinokuniya atau Tsutaya, lihat rak buku bisnis dan self-help, terus pengen beli tapi ada suara kecil di kepala, "Nanti dikira orang sok pinter lagi." ๐Ÿ˜Ÿ Apalagi di Jepang, ada istilah "ishiki takai" (ๆ„่ญ˜้ซ˜ใ„) yang kadang konotasinya agak nyindir buat orang yang dianggap terlalu ambisius.

Rasanya jadi serba salah. Mau belajar buat upgrade diri, tapi takut dianggap aneh. Akhirnya, bukunya dibaca sembunyi-sembunyi di apartemen sempit kita, jangan sampai ada teman yang lihat rak buku pas lagi main ke rumah.

Ternyata, Bukan Jawabannya yang Penting

Nah, ada sebuah artikel di Jepang yang ngebahas kegalauan ini. Katanya, kita mungkin salah kaprah soal fungsi buku-buku tersebut. Intinya bukan di "jawaban" yang ditawarkan buku itu.

Artikel itu mengutip buku populer 'The Cafe on the Edge of the World'. Di buku itu ada satu pertanyaan simpel: "Kenapa kamu ada di sini?" Sepintas, pertanyaannya biasa aja. Tapi, coba deh tanyakan itu ke diri sendiri, bukan ke orang lain. Buat kita yang merantau di Jepang, pertanyaan ini rasanya nancep banget, kan?

Nilai sebuah buku ternyata bukan sekadar informasi, tapi "pertanyaan" yang bikin kita berhenti sejenak dan mikir.

Momen "Wah, Ini Gue Banget"

Bedanya orang yang cuma baca sama yang beneran dapat manfaat itu tipis banget. Ada yang baca buku, terus selesai dengan, "Oh, oke juga." Lalu lupa.

Tapi, ada juga yang baca satu kalimat dan langsung kesetrum. Rasanya kayak, "Lho, ini kan gue banget." Itulah momen yang disebut orang Jepang "jibun-goto" (่‡ชๅˆ†ใ”ใจ), alias saat kita menganggap sesuatu sebagai urusan pribadi. Di situlah perubahan mulai terjadi.

Jadi, orang-orang yang sering nyinyir, "Ah, buku kayak gitu nggak ada gunanya," mungkin bukannya nggak setuju sama isinya. Bisa jadi, mereka cuma belum pernah merasakan momen "klik" itu aja.

Rak Bukumu Itu Peta Perjuangan

Jadi, soal rak buku yang bikin malu tadi? Justru sebaliknya. Rak buku itu bukan sekadar koleksi, tapi cerminan sejarah perjuangan kita menghadapi diri sendiri.

Setiap buku di sana nunjukkin apa yang pernah kamu khawatirkan, apa yang pengen kamu capai, dan gimana caramu berusaha jadi lebih baik. Itu adalah jejak rekam semua usahamu untuk bertahan dan bertumbuh, apalagi di negeri orang.

Yang seharusnya memalukan itu bukan membaca buku untuk jadi lebih baik. Yang memalukan itu kalau kita sama sekali nggak pernah meluangkan waktu untuk mikirin hidup kita sendiri.

Komentar

โšก Akses awal sudah penuh

Semua slot komentar sudah terisi. Daftar waitlist untuk mendapat notifikasi saat dibuka kembali.