โ† HoraYaba
Debat Susu vs. Teh di Makan Siang Sekolah Jepang
entertainmentยท2h

Debat Susu vs. Teh di Makan Siang Sekolah Jepang

Sekolah di Fukuoka mencoba mengganti susu dengan teh saat makan siang, tapi anak-anak tidak terima.

Ada Apa Sebenarnya?

Di Jepang, susu kemasan kecil itu sudah jadi bagian dari makan siang sekolah (kyushoku) sejak lama, bahkan bisa dibilang ikonik. Tapi sepertinya Dewan Pendidikan di kota Fukuoka merasa ada yang kurang pas.

Mereka punya ide: kalau menunya makanan Jepang seperti ikan bakar dan nasi, minumnya ya harus teh dong biar serasi. Katanya sih demi "pengalaman bersantap yang lebih harmonis". Maka dimulailah program uji coba "Hari Tanpa Susu" yang diadakan sebulan sekali di SD dan SMP.

Jangan kira ini soal penghematan. Justru susu itu lebih murah karena rantai pasokannya sudah sangat mapan sejak zaman setelah Perang Dunia II. Jadi, ini murni soal idealisme kuliner orang dewasa yang diterapkan pada anak-anak.

Reaksi Anak-Anak

Tentu saja, ide orang dewasa yang terdengar bagus di ruang rapat belum tentu diterima di meja makan kantin. Hasilnya bisa ditebak.

Banyak sekolah melaporkan jumlah kotak teh yang tidak diminum dan terbuang begitu saja bisa sampai 20 kali lipat lebih banyak dibanding kotak susu di hari-hari biasa. Anak-anak jelas menolak secara massal, tapi dengan cara yang sopan khas Jepang.

Pilihan tehnya juga agak aneh: teh hijau (green tea). Mungkin bagi anak-anak yang terbiasa minum mugicha (teh jelai) yang tidak berkafein dan ringan, teh hijau terasa terlalu "serius" dan pahit. Ada reporter yang meliput dan menangkap ekspresi wajah anak-anak yang seolah berkata "makasih, tapi nggak dulu". ๐Ÿ˜ฌ

Jadi Gimana Selanjutnya?

Di internet, komentarnya pun beragam tapi intinya sama: ide ini agak konyol. "Kenapa nggak dikasih mugicha aja?", "Anak-anak mana peduli sama 'food pairing'?", atau yang paling menusuk, "Ini pasti idenya orang dewasa yang sudah lama nggak nginjak sekolah."

Mendengar masukan (atau mungkin melihat tumpukan sampah kotak teh), Dewan Pendidikan Fukuoka belum menyerah. Musim gugur ini mereka akan coba lagi, kali ini dengan hojicha (teh hijau panggang) atau mugicha yang kafeinnya lebih rendah atau nol.

Namun, rintangannya bukan cuma soal selera. Kota Shizuoka, daerah penghasil teh, pernah punya program serupa. Program itu dihentikan setelah 1,5 tahun karena ada kekhawatiran anak-anak jadi kekurangan gizi penting yang ada di susu. Fukuoka sadar soal ini dan berjanji akan menambah nutrisi di lauk-pauknya. Tapi ya, tetap saja sulit menandingi paket lengkap kalsium, vitamin, dan protein dalam sekotak susu 200ml yang harganya efisien itu.

Komentar

โšก Akses awal sudah penuh

Semua slot komentar sudah terisi. Daftar waitlist untuk mendapat notifikasi saat dibuka kembali.